TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMETAAN PADANG LAMU DI PULAU SAPUDI

Muhammad Guruh Bintang Wicaksana

Pendidikan Geografi

Universitas Negeri Semarang 

            Ekosistem pesisir pada umumnya terdiri dari 3 komponen penyusun diantaranya ekosistem mangrove, ekosistem lamun, dan ekosistem terumbu karang. Ketiga komponen ekosistem tersebut di wilayah pesisir menjadikan lingkungan ini menjadi relatif sangat subur dan produktif. Ekosistem lamun (seagrass) merupakan termasuk tumbuhan yang berbunga (angiospermae) dan dapat tumbuh dengan baik di perairan yang dangkal. Selain itu lamun juga termasuk tumbuhan berbiji satu (monokotil) yang mempunyai akar, rimpang (rhizoma), daun, dan berbunga. Lamun yang membentuk hamparan di laut yang terdiri dari satu atau lebih dari satu spesies yang dinamakan dengan padang lamun (Tangke, 2010) [1]. Lamun dapat pula tumbuh pada substrat kerikil, pasir, dan karang mati pada kedalaman 4 meter. Pada perairan jernih lamun dapat sitemukan pada kedalaman 8-15 meter [2].

            Informasi ekosistem padang lamun secara spasial dan temporal dapat diketahui dengan melakukan pemetaan perairan dangkal menggunakan teknologi penginderaan jauh dengan memanfaatkan berbagai sensor optik dari berbagai resolusi spasial mulai dari resolusi rendah, sedang, dan tinggi (Yang & Yang, 2009; Hedley et al., 2009; Dekker et al., 2005) [3]. Teknik penginderaan jauh dengan memanfaatkan citra landsat 8 akan memberikan banyak keuntungan dengan memetakan persebaran lamun di Pulau Sapudi Kabupaten Sumenep. Menurut Sari dan Muhammad (2017), luasnya padang lamun dapat memungkinkan biota mampu berasosiasi dengan lamun. Peranan lamun kurang mendapat perhatian untuk masyarakat pesisir, sehingga kondisi ekosistem lamun di Indonesia mengalami kerusakan mencapai 30-4-%. [1]

Tabel 1. Luasan Persebaran Lamun di Pulau Sapudi pada bulan September 2014 dan 2018


Sumber:  Mardyana & Makhfud, 2020

            Pada tabel diatas pada bulan September mengalami perubahan luasan, pada tahun 2014 luasan padang lamun pada citra dengan luasan 5,249 ha dan tahun 2018 luasan padang lamun pada citra dengan luasan 4,396 ha. Sehingga pada bulan September di tahun 2014 dan 2018 luasan padang lamun mengalami penurunan luas sebesar -0,853 Ha dengan laju perubahan luasan sebesar -19,4%. Terjadinya penurunan luasan lamun di Pulau Sapudi karena adanya kegiatan pengambilan pasir yang dilakukan di bibir pantai yang digunakan untuk bahan bangunan dan terdapat kegiatan kapal-kapal nelayan dengan meletakkan jangkar di ekosistem lamun. Sehingga ekosistem lamun mengalami hilangnya atau berpindahnya bibit dari lamun dari satu lokasi ke lokasi yang baru. [1]

            Faktor penyebab bertambahnya atau berkurangnya persebaran padang lamun di suatu lokasi menurut Adi (2015) secara faktor eksternal. Faktor eksternal terdapat dua faktor. Faktor yang pertama yaitu secara abiotik. Arus dan angin merupakan penyebab terbawanya benih lamun dari satu tempat ke tempat yang baru sehingga pada persebaran lamun dapat bertambah maupun berkurang. Faktor yang kedua yaitu adanya biota yang mengonsumsi lamun seperti penyu dan ikan. [1]

            Faktor arah arus di Pulau Sapudi mengarah pada arah selatan menuju ke Pulau Jawa dan Selat Bali dengan kecepatan mencapai 0-0,2 m/s. Arah arus di Pulau Sapudi mengakibatkan luasan padang lamun terjadi penggeseran area lamun dan mengakibatkan terjadi pengurangan luasan padang lamun di Pulau Sapudi Kabupaten Sumenep. Mengacu pendapat Seprianti (2017), menyatakan untuk ekosistem lamun pada umumnya dapat berkembang di perairan yang tenang dengan kecepatan arus sampai 0,7 m/s. Kondisi kecepatan arus di Pulau Sapudi termasuk dibawah nilai optimum pada perkembangan lamun. Kecepatan arus pada perairan dapat mempengaruhi pada produktivitas padang lamun. Arus berperan penting bagi ekosistem lamun untuk membersihkan pengendapan atau partikel-partikel pasir berlumpur yang menempel (Minerva, 2014). [1]

            Suhu permukaan laut Bulan September 2014 dan 2018 dengan menggunakan citra Landsat 8 di Pulau Sapudi Kabupaten Sumenep. Pada citra baulan September 2014 dengan nilai minimal berkisar 21,3 ºC - 31ºC. Citra bulan September 2018 dengan nilai minimal berkisar 19,3 ºC - 28,4 ºC.  Kisaran suhu yang optimal pada lamun untuk melakukan proses fotosintesis sekitar 25-35 ºC (Minerva et al., 2014).  Faktor arus, suhu permukaan laut serta adanya penambangan pasir yang mempengaruhi perubahan luasan lamun pada bulan September 2014 dan 2018. [1]


Referensi:

[1] Riswati, M., & Efendy, M. (2020). Analisis persebaran lamun menggunakan teknik penginderaan jauh di Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep. Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan1(2), 250-259.

[2] Dahlan, Z., & Nofrizal, N. (2017). Pemetaan Sebaran Lamun di Perairan Teluk Tomini Provinsi Gorontalo. Jurnal Penelitian Sains10(1).

[3] Ilyas, T. P., Nababan, B., Madduppa, H., & Kushardono, D. (2020). Pemetaan Ekosistem Lamun Dengan Dan Tanpa Koreksi Kolom Air Di Perairan Pulau Pajenekang, Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis12(1), 9-23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEMAMPUAN DAN KAPASITAS PARKIRAN FISIP UNNES DALAM MENAMPUNG SEPEDA MOTOR MAHASISWA

Media Pembelajaran ArcGIS StoryMaps Sumber Daya Alam Di Indonesia