Analisis Faktor Penyebab Dan Adaptasi Masyarakat Terhadap Bencana Abrasi Di Kelurahan Gemulak, Kecamatan Sayung, Demak

 Galang Jiwo Prakoso, Muhammad Guruh Bintang Wicaksana, Qori Septiani Wulansari, Alfina Putri Berliana  

 

        Kelurahan Gemulak, yang terletak di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, mengalami penurunan permukaan tanah setiap tahunnya sebesar 20-40 cm. Penurunan ini terjadi karena abrasi, yang disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, adanya kenaikan air laut yang terkait dengan perubahan iklim. Kedua, terdapat reklamasi Pantai Marina dan pembangunan kawasan industri di Semarang yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Sayung. Dampak dari reklamasi ini adalah tekanan air laut yang mempengaruhi wilayah pesisir Kecamatan Sayung (Marfai, 2012:50).     

       Dalam penelitian yang dilakukan oleh Munawaroh dan Setyaningsih (2021) dengan judul "Adaptasi Masyarakat Pesisir dalam Menghadapi Perubahan Garis Pantai di Pesisir Kecamatan Sayung," tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis pola perubahan garis pantai dari tahun 1990 hingga 2019 dan juga mengevaluasi upaya adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir di Kecamatan Sayung dalam menghadapi perubahan tersebut melalui tiga pendekatan, yaitu proteksi, akomodasi, dan retreat. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Untuk analisis perubahan garis pantai, digunakan metode analisis Normalized Difference Water Index, sementara analisis adaptasi dilakukan di dua desa, yaitu Desa Bedono dan Desa Surodadi. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya dalam hal lokasi penelitian, variabel yang diteliti, dan metode analisis data yang digunakan.    

            Abrasi di Kelurahan Gemulak terjadi pada tahun 2009 dan terparah tahun 2017. Kelurahan Gemulak memiliki luas 415,673 ha. Lahan persawahan tenggelam seluas 302,6443 ha dan lahan lainnya seliuas 94,141 ha. Pekarangan seluas 19,089 ha. Tanah kas desa seluas 17,433 ha. Fenomena tersebut mempengaruhi masyarakat dalam menghadapi perubahan akibat dari abrasi. Masyarakat dapat melakukan antisipasi dampak dari fenomena tersebut. Adaptasi masyarakat dalam menghadapi fenomena tersebut dibutuhkan sebagai cara mempertahankan eksistensi dan kehidupan di wilayah pesisir. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor penyebab dan inovasi mitigasi bencana abrasi di wilayah Kelurahan Gemulak.  


        Salah satu desa di Kecamatan Sayung, Kabu55’20.33” S dan 110°31’49.79 E secara astronomis. Secara geografis, Desa Gemulpaten Demak adalah Gemulak. Desa Gemulak seluas 4.12 km2 dan terletak pada 6°55’20.33” S 110°31’49.79 E berbatasan dengan: 

Desa Tugu di sebelah utara

Desa Loireng di sebelah selatan

Desa Sidogemah di sebelah barat

Desa Batu di sebelah timur

Secara topografi, Desa Gemulak memiliki wilayah dataran rendah dengan ketinggian 3 m di atas permukaan laut. Wilayah Desa Gemulak sering terjadi banjir rob dan abrasi


    
  Gambar 1. Peta Lokasi Kajian

Potensi Bencana 

Potensi bencana yang terdapat di Desa Gemulak yaitu angin puting beliung dan tenggelamnya rumah warga akibat abrasi rob. Terjadinya puting beliung di Desa Gemulak karena pertemuan arus udara panas bertemu dengan arus udara dingin yang membentuk pusaran angin. Selain itu, tenggelamnya rumah warga akibat rob dan abrasi yang terjadi akibat perubahan iklim dan aktivitas di utara Kota Semarang.


   

  
  Gambar 2. Rumah yang setelah terendam banjir rob


Analisis Faktor Penyebab Bencana Abrasi


Pada tahun 1990, garis pantai di Kecamatan Sayung terdiri dari empat desa, yaitu Surodadi, Timbulsloko, Bedono, dan Sriwulan. Namun, akibat terjadinya abrasi pada tahun 2019, garis pantai memanjang menjadi tujuh desa, termasuk tambahan desa seperti Gemulak, Sriwulan, Sidogemah, dan Purwosari. Kejadian abrasi di Kelurahan Gemulak telah terdeteksi sejak tahun 2009, yang menyebabkan air laut masuk ke area pertanian. Desa Gemulak secara khusus mengalami penurunan muka tanah sebesar 20-40 cm per tahun. Pada periode tahun 1988-1992, jarak antara Desa Gemulak dengan pantai sekitar 7 hingga 8 km. Namun, akibat abrasi yang terjadi selama bertahun-tahun, garis pantai telah menjauh dari Desa Gemulak, sehingga jarak tersebut menjadi lebih dekat.

Perubahan dalam jumlah dan lokasi desa-desa yang terdampak oleh abrasi ini menggambarkan dampak yang signifikan terhadap morfologi pantai di Kecamatan Sayung. Permasalahan ini menuntut perhatian dan upaya adaptasi yang tepat guna dari masyarakat dan pemerintah setempat untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh abrasi pantai. Faktor yang menyebabkan abrasi di Desa Gemulak antara lain adalah pembangunan pelabuhan, industri, dan reklamasi di Utara Semarang. Kejadian abrasi ini terjadi secara intensif mulai dari desa-desa yang berdekatan dengan Kota Semarang, seperti Desa Sriwulan dan Desa Bedono, kemudian Desa Gemulak, dan semakin berkurang ke utara menjauhi Kota Semarang. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian abrasi disebabkan oleh reklamasi Pantai Marina dan pembangunan kawasan industri di Kota Semarang. Perubahan morfologi pantai di Kota Semarang dan sekitarnya Kecamatan Sayung terjadi akibat reklamasi Pantai Marina dan pembangunan kawasan industri, yang mengubah arus pantai. Arus yang seharusnya tertahan di Pantai Marina berubah arah ke barat dan timur. Arus ke arah timur memiliki arus yang cukup kuat tanpa membawa sedimen laut, yang menyebabkan abrasi pantai, termasuk di pesisir Kecamatan Sayung. Akibat kejadian abrasi ini, banyak lahan pertanian dan pemukiman yang hilang terutama di Kelurahan Gemulak, dengan luas keseluruhan 415,673 ha, termasuk lahan persawahan seluas 302,6443 ha dan lahan lainnya seluas 94,141 ha. Selain itu, terdapat pula bencana banjir rob yang terjadi sebagai dampak dari abrasi tersebut.


Adaptasi Masyarakat Terhadap Bencana Abrasi


        Pada tahun 2009, masyarakat Desa Gemulak mulai merasakan konsekuensi dari bencana abrasi yang terjadi. Dampak yang paling signifikan adalah munculnya banjir rob, di mana air laut meluap dan menggenangi permukiman pada jam-jam tertentu. Banjir rob biasanya terjadi mulai pukul 18.00 WIB dan surut kembali sekitar pukul 20.00 WIB. Untuk mengatasi masalah ini, masyarakat Desa Gemulak telah melakukan adaptasi proteksi dengan menggunakan tanaman mangrove. Tanaman mangrove dipilih karena dianggap lebih efektif dalam melindungi lingkungan tempat tinggal daripada menggunakan teknologi struktur keras. Instansi terkait dan sekolah terlibat dalam pembuatan sabuk desa dengan menanam mangrove sepanjang kurang lebih 2 kilometer. Penanaman mangrove ini bertujuan sebagai penghalang alami untuk mencegah meluasnya abrasi. Selain itu, pemerintah Desa Gemulak juga melakukan penyedotan air untuk mengalirkannya ke bendungan sebagai langkah proteksi tambahan.

        Selain adaptasi proteksi, masyarakat Desa Gemulak juga melakukan adaptasi akomodasi secara fisik untuk mempertahankan lingkungan permukiman mereka dari pengurangan daratan. Tindakan ini melibatkan renovasi dan modifikasi bangunan rumah serta perbaikan jalan lingkungan. Renovasi dan modifikasi bangunan rumah dilakukan dengan cara meninggikan bangunan menggunakan bata, sedangkan lantai rumah menggunakan semen dan keramik. Halaman dan jalan lingkungan juga ditinggikan menggunakan paving atau semen. Selain itu, perbaikan jalan lokal dilakukan dengan membuat jalan beton yang ditinggikan menggunakan padas. Pemerintah Kabupaten Demak juga terlibat dalam adaptasi proteksi terhadap perlindungan daratan dengan membangun teknologi struktur keras seperti dinding pantai (revetment) dan pemecah ombak (breakwater), serta menggunakan Teknologi Hybrid Engineering. Mereka juga mengimplementasikan teknologi struktur lunak seperti restorasi dan rehabilitasi lahan mangrove dengan upaya konservasi dan penanaman kembali mangrove. Upaya ini melibatkan tidak hanya pemerintah daerah Kabupaten Demak, tetapi juga partisipasi dari elemen masyarakat.

        Adaptasi akomodasi secara ekonomi dilakukan oleh masyarakat Desa Gemulak dengan mengalihkan mata pencaharian dari pertanian menjadi petambak. Hal ini disebabkan oleh terendamnya lahan sawah warga oleh air laut. Seiring dengan perubahan ini, masyarakat juga mengeluarkan pengeluaran setiap tahun untuk melakukan perbaikan lingkungan rumah mereka. Dengan melakukan berbagai upaya adaptasi proteksi dan akomodasi tersebut, diharapkan masyarakat Desa Gemulak dapat mengurangi dampak bencana abrasi dan banjir rob serta menjaga keberlangsungan lingkungan permukiman mereka.


  

  
  Gambar 3. Sungai dikeruk untuk memperbesar kapasitas daya tampung 


    Berdasarkan temuan penelitian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa abrasi yang terjadi di Desa Gemulak disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu penurunan muka tanah dan adanya reklamasi Pantai Marina serta pembangunan kawasan industri di Kota Semarang. Dampaknya terlihat dalam perubahan morfologi pantai di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya, terutama di Kecamatan Sayung. Reklamasi Pantai Marina dan pembangunan kawasan industri telah mengubah arus laut yang seharusnya terhenti di Pantai Marina, namun kini berubah arah menuju arah barat dan timur. Arus ke arah timur memiliki kekuatan yang signifikan tanpa membawa sedimen laut. Untuk mengatasi kerusakan tempat tinggal akibat pengurangan daratan, masyarakat Desa Gemulak telah mengadopsi strategi proteksi. Mereka melakukan langkah-langkah perlindungan lingkungan sekitar dengan memanfaatkan tanaman mangrove dan membangun struktur penahan ombak. Dengan demikian, masyarakat berupaya melindungi wilayah mereka dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh abrasi dan perubahan morfologi pantai. 

    Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang penyebab dan akibat abrasi di Desa Gemulak serta upaya adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Dalam konteks pengurangan daratan, strategi proteksi seperti penggunaan tanaman mangrove dan penahan ombak menjadi solusi penting dalam menjaga keberlangsungan tempat tinggal dan lingkungan di wilayah pesisir. Adaptasi akomodasi secara fisik melakukan renovasi dan modifikasi lingkungan tempat tinggal dengan meninggikan bangunan atau halaman. Terhadap ekonomi masyarakat melakukan alih mata pencaharian, perubahan pemanfaatan lahan tambak dan pengeluaran setiap tahunnya untuk melakukan perbaikan lingkungan rumah. Sungai yang mengalir di Desa Gemulak juga dilakukan pengerukan setiap 1 tahun sekali supaya kapasitas daya tampung sungai lebih besar dan endapan sungai dapat menjadi penghalang dari banjir rob yang diletakkan di tepian sungai. 




DAFTAR PUSTAKA

 

Setyaningsih, W. (2021). Adaptasi Masyarakat Pesisir dalam Menghadapi Perubahan Garis Pantai di Pesisir Kecamatan Sayung. Geo-Image, 10(2), 164-174.

Rif’an, A. A., & Tyawati, A. W. (2020). PENILAIAN RISIKO BENCANA KAWASAN PARIWISATA PANTAI SAYUNG, KABUPATEN DEMAK. Pringgitan, 1(2).

Damayanti, R. (2019). Hilangnya Dua Kampung Pesisir Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Dalam Pusaran Abrasi dan Industrialisasi Tahun 1990-2010 (Doctoral dissertation, Universitas Diponegoro).

Hadi, H. (2014). Strategi adaptasi dan relokasi pemukiman warga akibat bencana abrasi pantai dan banjir pasang air laut di pesisir kecamatan Sayung kabupaten Demak Jawa Tengah (Doctoral dissertation, UNS (Sebelas Maret University)).

Jatmiko, D. (2014). Pola Adaptasi Masyarakat terhadap Abrasi Pantai:(Studi di Kawasan Pesisir Samas Bantul Yogyakarta) (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).

Maulana, E., Wulan, T. R., Wahyuningsih, D. S., Mahendra, I. W. W. Y., & Siswanti, E. (2016). Strategi pengurangan risiko abrasi di pesisir Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Ronggowulan, L. (2015). Adaptasi Masyarakat terhadap Bencana Abrasi di Kecamatan Kragan dan Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang (Sebagai Materi Suplemen Kontekstual Mitigasi Bencana di Kelas X SMA IPS) (Doctoral dissertation, UNS (Sebelas Maret University)).

Wulandari, A., Shahabuddin, M., & Satria, A. (2022). Strategi Adaptasi Rumah Tangga Nelayan dalam Menghadapi Dampak Abrasi. Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 17(2).

Wicaksono, N. A. B., Ridlo, M. A., & Rahman, B. (2022). Analisis Perubahan Permukiman Akibat Dampak Abrasi & Inundasi (Studi Kasus: RW02& 08 Desa Sriwulan Kabupaten Demak). Jurnal Ilmiah Sultan Agung, 1(1), 130-145.

Shidqi, M. M., & Sugiri, A. (2015). Bentuk-Bentuk Adaptasi Lingkungan Terhadap Abrasi Di Kawasan Pantai Sigandu Batang. Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota), 4(4), 702-715.



 


DOKUMENTASI LAPANGAN
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEMAMPUAN DAN KAPASITAS PARKIRAN FISIP UNNES DALAM MENAMPUNG SEPEDA MOTOR MAHASISWA

TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMETAAN PADANG LAMU DI PULAU SAPUDI

Media Pembelajaran ArcGIS StoryMaps Sumber Daya Alam Di Indonesia