TRADISI IRIBAN DALAM UPAYA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI DESA LEREP, KECAMATAN UNGARAN BARAT
Andina Ahya Prameswari, Tantri Nurohmah, Ria Kholifatun Nadhiroh, Muhammad Guruh Bintang Wicaksana
Setiap wilayah pedesaan memiliki karakter yang menjadi kekhasan dari kehidupan masyarakat di desa tersebut. Karakter ini muncul dalam kehidupan masyarakat yang merupakan tradisi secara turun temurun selama beberapa masa sebelumnya hingga saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat. Fenomena ini dapat dimaknai sebagai kearifan lokal atau local wisdom (Nasiwan, 2012). Banyak aspek yang dapat diangkat dalam pembangunan dan pengembangan desa dengan melihat potensi yang disesuaikan dengan ciri khas atau keaslian daerah tersebut.
Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah memiliki luas wilayah yang luas yaitu sekitar 682 Ha yang terdiri dari 64 RT, 10 RW dan delapan dusun. Potensi desa ini adalah pertanian, perkebunan dan wisata desa berbasis budaya masyarakat dan religi. (Mohamad Wakhyudin Juhadi, Heri Tjahjono, 2017). Salah satu Program pembangunan Desa Lerep yaitu melestarikan sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat melalui tradisi “Iriban’.
Iriban merupakan kearifan lokal yang selalu dilaksanakan oleh masyarakat dalam upaya melestarikan sumberdaya alam. Tradisi iriban dilakukan masyarakat Desa Lerep setiap awal musim tanam padi. Air merupakan sumber kehidupan, khususnya di wilayah pedesaan yang mana air tidak saja untuk kehidupan manusia melainkan untuk kebutuhan budidaya pertanian. Seperti firman Allah dalam Al Qur’an bagian surat Al Anbiyah ayat :30, yang artinya: dan air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan cara-cara tradisional atau kearifan lokal yang digunakan oleh masyarakat Desa Lerep dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya air. Sasaran penelitian adalah untuk mengidentifikasi berbagai praktik kearifan lokal yang ada di Desa Lerep dan menganalisis bagaimana kearifan lokal yang disebut Iriban dapat berkontribusi dalam upaya pelestarian sumberdaya air. Upaya pelestarian sumberdaya air dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Lerep dan mengoptimalkan potensi yang ada di desa tersebut, sambil tetap menjaga kelestarian sumber daya alamnya (Aziz, 2015).

Makna dari tradisi Iriban ini menunjukkan adanya bentuk pengelolaan sumberdaya air yang dilakukan oleh masyarakat secara periodik di Desa Lerep. Pengelolaan sumberdaya air mencakup pembersihan sumber mata air dari sampah yang menyumbat aliran air pengaturan distribusi pengairan untuk pertanian dan pemeliharaan bangunan di sekitar Embung Sembligo. Ritual yang dilakukan pada saat proses iriban yaitu dengan memotong ayam di atas aliran sumber air yang mengalir. Sehingga darah dari ayam yang dipotong akan mengalir dengan air tersebut. Maksud dari kegiatan ini adalah sebagai bentuk pembersihan sumber mata air yang ada di Desa Wisata Lerep. Selanjutnya ayam tersebut akan dibakar dan dimasak sedangkan yang lainnya membersihkan sumber mata air dan sekitarnya Selanjutnya setelah bersih-bersih diadakan selamatan dengan doa bersama kemudian makan bersama para warga dan sesepuh desa yang melakukan ritual iriban tersebut.
1. Pembersihan
Pembersihan dilakukan dengan cara kerja bakti gotong royong warga desa Lerep dengan membersihkan sampah maupun vegetasi yang mengganggu mata air desa, serta membersihkan saluran air yang ada
2. Doa Bersama
Doa bersama ini dilakukan oleh semua warga dan pengurus desa dengan dipimpin oleh sesepuh desa atau ustadz untuk doa bersama, selanjutnya dilakukan pemotongan bebek putih sebagai wujud rasa terimakasih kepada alam akan anugerah sumber mata air yang ada di desa lerep.
3. Syukuran
Selanjutnya adalah acara selamatan dimana para penduduk desa lerep melakukan syukuran berupa makan bersama di area jalan desa guna mempererat rasa kebersamaan dan kekeluargaan antar sesama warga desa.
Potensi Wisata Alam Desa Lerep
Gambar 2. Peta Lokasi Potensi Wisata Alam Desa Lerep
1. Curug IndrokiloCurug Indrokilo adalah air terjun yang berada di sebelah barat Dusun Indrokilo yang merupakan salah satu dusun yang ada di Desa Lerep. Curug Indrokilo ini merupakan wisata alam yang masih alami dan dijaga oleh masyaraka. Desa Wisata Lerep untuk dijadikan potensi sumberdaya air maupun untuk Daya Tarik Wisata Alam. Aksesibilitas menuju curug adalah jalan setapak yang dapat dilalui dengan berjalan kaki.
Pada
saat ini masyarakat desa memanfaatkan air dari curug untuk keperluan mandi cuci
dan pengairan tanaman perkebunan pada areal dibawahnya, ataupun keperluan
ternak Maupun perikanan air tawar. Namun curug ini juga menjadi daya tarik
wisata lokal maupun asing untuk berekreasi. Aksesibilitas menuju Curug
Indrokilo ini melewati jalanan yang sangat terjal dengan banyak pepohonan
rindang dan hutan bambu namun dapat dilewati oleh kendaraan bermotor roda
dua. Terdapat tempat parkir kendaraan
roda dua dan lokasi curug dari tempat parkir dapat ditempuh dengan berjalan
kaki melewati perkebunan kopi milik warga Desa Wisata Lerep.
2.
Embung Sembligo
Embung
Sembligo adalah sebuah danau buatan yang terletak di tengah Desa Lerep yang
dibangun oleh masyarakat Desa Lerep dengan kedalaman 5-meter dan daya tampung
air sekitar Sembilan belas juta liter. Embung Sembligo ini dijadikan tempat
penampungan air pada saat musim hujan tiba untuk kemudian dimanfaatkan pada
musim kemarau. Pembangunan Embung ini
mendapatkan bantuan dari pertamina. Air di Embung Sembligo ini dimanfaatkan
sebagai sumber pengairan pada area sawah yang dibudidayakan di Desa Lerep pada
saat musim kemarau tiba agar pertanian tetap berjalan untuk mencukupi kebutuhan
masyarakat Desa Lerep. Selain itu
Embung ini juga dimanfaatkan sebagai wisata air dan terdapat permainan air
seperti perahu karet dan bebek air serta di sekitar Embung Sembligo ini
dilengkapi dengan gazebo untuk bersantai

Peran masyarakat Desa Lerep dalam menjaga Tradisi Iriban sangat tinggi. Masyarakat Desa Lerep bergotong royong untuk membersihkan sumber mata air yang mereka gunakan sehari-hari. Dalam setahun masyarakat dapat melaksanakan Tradisi Iriban sebanyak 2 kali. Namun, jika di sekitar sumber mata air terjadi bencana seperti tanah longsor masyarakat langsung bersama membersihkan mata air yang terkena longsor. Masyarakat Desa Lerep telah menyadari bahwa air yang mereka gunakan merupakan air yang berasal langsung dari alam sehingga masyarakat akan menjaga sumber mata air tersebut. Tradisi Iriban yang dijaga dan dilestarikan masyarakat Desa Lerep yang sudah menjadi kebiasaan yang harus dilakukan. Masyarakat Desa Lerep memainkan peran penting dalam menjaga Tradisi Iriban yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya air. Tradisi Iriban ini merupakan bentuk kearifan lokal yang melibatkan pengelolaan sumberdaya air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sektor pertanian masyarakat. Salah satu aspek penting dari tradisi ini adalah upaya periodik yang dilakukan oleh masyarakat Desa Lerep untuk menjaga sumber mata air tetap bersih dari sampah yang dapat menghalangi aliran air, mengatur distribusi pengairan untuk keperluan pertanian, dan merawat bangunan sekitar Embung Sembligo. Melalui tradisi ini, masyarakat Desa Lerep berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan sumberdaya air di wilayah mereka.
APRILINA, M., 2020. Kajian Kegiatan Wisata di Desa Wisata Lerep Berbasis Kearifan Lokal Kabupaten Semarang (Doctoral dissertation, Universitas Islam Sultan Agung Semarang).
Heriyanti, A.P. and Rizkiyah, N.P., Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan di Desa Lerep, Ungaran Barat. Kajian Etnosains dan Etnoekologi dalam Budaya Jawa, p.14.
Hidayah, N., 2020. Potensi Halal Tourism dalam Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Desa Wisata Lerep Kabupaten Semarang (Doctoral dissertation, IAIN KUDUS).
Setyowati, D.L., Hardati, P. and Arsal, T., 2018. Konservasi Sungai Berbasis Masyarakadi Desa Lerep DAS Garang Hulu. Prosiding Seminar Nasional Geografi UMS IX 2018.
Yuliani, E. and Aprilina, M., 2020. Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Upaya Pengelolaan Sumberdaya Air Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Jurnal Planologi, 17(1), pp.114-125.
Dokumentasi Lapangan






Komentar
Posting Komentar